Aneh. Itulah seuntai kata yang sedang bergeming di hatinya. Tak biasanya, dia merasakan tubuhnya begitu dingin, gemetar, dan ketakutan yang berlebihan ketika berhadapan dengan masalah cintanya. Banyak potret dan realita yang terus bertambah di album kehidupannya. Kadang kala dia mencoba untuk merejectnya satu per satu. Tapi sulit. Itulah yang menyebabkan dirinya semakin low untuk menghadapinya.
***
Pemandangan hari itu tampak berbeda dengan hari-hari biasanya. 19 Juni tepatnya. Hari dimana sejarah, kisah dan cerita kehidupannya dimulai. Tampak suasana meeting room yang mulai dihiasi oleh spanduk berwarna biru kehijau-hijaun dan diikuti beberapa kata ucapan selamat kepada peserta yang telah hadir. Di sisi lain terlihat beberapa meja dan kursi diletakkan berbentuk leter U. di depan meja terdapat sebuah white board dengan tulisan kusam yang telah lama tidak gunakan. Walaupun kelihatannya meeeting room ini telah lama tidak berfungsi, tapi cukup layak digunakan bagi Anak Media selaku peserta pelatihan.
Sederetan kisah baru saja dimulai. Kak Riko terlihat begitu antusiasnya sebagai pemateri. Sesekali tampak beberapa peserta mengacung tangannya mencoba menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan Kak Riko. Tapi di sisi lain terlihat suasana yang berbeda. Ririn dan beberapa temanya mulai bereaksi. Mereka mulai gerah dan dihimpit rasa bosan yang luar biasa. Bertahan dan menetap dalam ruang tertutup berjam-jam bukanlah impian mereka.
Berbeda dengan Afdhal. Dia tampak begitu menikmati materi yang ditawarkan Kak Riko siang itu. Materi yang unik menurutnya. Terlihat gerakan-gerakan pulpen dengan lincah berjalan di atas note book berwarna merah yang dipegangnya. Kadang-kadang matanya ikut melirik ke arah Kak Riko, namun kadang kala dia menyempatkan matanya singgah diantara mata teman-temannya, berhenti dengan sedikit senyuman yang dipaksakan. Namun tak ayal matanya lewat begitu saja. Begitulah Afdhal. Dia mendapat julukan “maskulin” dari teman-temannya karena sifatnya yang tergolong Aneh. Bagaimana tidak, semua kegiatan yang dilakukannya hampir sendirian. Mulai makan, nonton, belajar, bahkan waktu istirahatpun Afdhal menyempatkan diri untuk sendirian. Itulah keanehan dari sosok Afdhal yang mengundang respon dari teman-temannya. Pun demikian, Afdhal tergolong Peserta yang mudah bersahabat dalam forum tersebut. Sifat khasnya bisa hilang begitu saja ketika beberapa temannya seperti Silvi, Ria, Suci, Akhi dan Ryan coba bergabung.
“Dhal, dari tadi aku perhatiin kamu kok senyam senyum sendiri? Hm…jangan-jangan kamu suka sama dia ya?” celutuk Akhi sambil menggerakkan alis matanya ke arah seorang gadis yang duduk tepat di didepan Afdhal…(bersambung)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar